|
|
|
| Selamat Tinggal Lampu Ublik |
| Selasa, 09 Agustus 2011 23:06 |
helloMALANG.com - Lampu ublik minyak tanah yang setia menemani jamaah Masjid Al-Mushodiqun selama 11 tahun akan menjadi sejarah bisu perjalanan masjid di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang itu. Seperti masjid-masjid lainnya para jamaah mulai menikmati penerangan listrik ketika menjalankan ibadah sholat magrib, isya' dan subuh.Satu unit pembangkit tenaga surya bantuan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) telah menemani para jamaah sata menjalankan ibadah di malam hari.
Koordinator tim Fakultas Teknik UMM Layanan Masyarakat, M. Irfan, mengatakan selama 11 tahun masjid tersebut hanya menggunakan penerangan dari lampu tempel atau lampu ublik. Dengan adanya penerangan listrik kami berharap para jamaah bisa lebih khususk ketika menjalankan ibadah di malam hari.
Wilayah Sitiarjo, lanjutnya, memang sebagian diantaranya belum tersentuh aliran listrik. “Masyarakat setempat masih menggunakan lampu minyak tradisional yang dibuat dari kaleng. Tentu saja hal itu tidak cukup untuk penerangan.”
Bersama tim, pihaknya melakukan survey di wilayah Kabupaten Malang bagian selatan tersebut terutama pada angin dan potensi tenaga surya untuk kemduian diolah menjadi generasi wind power (tenaga angin) dan generasi solar power (tenaga solar).
“Hal ini menjadi obyek penelitian kami untuk Micro Hydro Power Generation.Dan masjid Al-Mushodiqun adalah objek yang tepat.”
Kemudian tim membangun kincir angin dan dua panel sel surya sebagai sumber energi alternative dengan kekuatan sekitar 500 watt yang mampu menerangi sedikitnya 11 poin termasuk untuk pengeras suara masjid.
Ali Muhtar, anggota tim, mengatakan layanan masyarakat tersebut mendapat respon positif dari Rektor UMM Muhadjir Effendi. Bahkan rektor juga meminta agar dibangun masjid yang lebih baik.
“Dengan begitu daerah tersebut akan menjadi ramai sehingga membutuhkan masjid yang lebih representatif. Akan tetapi lahan untuk masjid tersebut milik Perhutani sehingga perbaikannya perlu dikaji ulang ,” tambah dia.
Layanan masyarakat, kata dia, adalah salah satu layanan dosen UMM. Dalam bulan puasa kali ini ada tiga daerah terpencil yang mendapat makanan gratis dan perawatan medis. Rektor UMM mendorong semua dosen dan karyawan untuk terus melakukan pelayanan masyarakat yang membutuhkan.helma-02
|